Welcome To Blog Any Entry News


Followers

Popular Posts

Showing posts with label umum. Show all posts
Showing posts with label umum. Show all posts

Sejarah

Written By andrevai on Sunday, August 21, 2011 | 5:58 PM

Sejarah, babad, hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah.[1] Adapun ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.[2] Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah atau ahli sejarah disebut sejarawan.
Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari ilmu budaya (humaniora). Akan tetapi, kini sejarah lebih sering dikategorikan ke dalam ilmu sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis. Ilmu sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi kronologi, historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik.



Etimologi

Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi.
Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal-muasal istilah sejarah yang dipakai dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi, meskipun begitu, banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal-muasal,dalam bahasa Yunani historia. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis.
Menilik pada makna secara kebahasaan dari berbagai bahasa di atas dapat ditegaskan bahwa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa. Oleh karena itu masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa, maka para sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat periodesasi

Klasifikasi

Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian. Bila beberapa penulis seperti H.G. Wells, Will Durant, dan Ariel Durant menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan sejarawan memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing.
Ada banyak cara untuk memilah informasi dalam sejarah, antara lain:
  • Berdasarkan kurun waktu (kronologis).
  • Berdasarkan wilayah (geografis).
  • Berdasarkan negara (nasional).
  • Berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis).
  • Berdasarkan topik atau pokok bahasan (topikal).
Dalam pemilahan tersebut, harus diperhatikan bagaimana cara penulisannya seperti melihat batasan-batasan temporal dan spasial tema itu sendiri. Jika hal tersebut tidak dijelaskan, maka sejarawan mungkin akan terjebak ke dalam falsafah ilmu lain, misalnya sosiologi. Inilah sebabnya Immanuel Kant yang disebut-sebut sebagai Bapak Sosiologi mengejek sejarah sebagai "penata batu-bata" dari fakta-fakta sosiologis.
Banyak orang yang mengkritik ilmu sejarah. Para pengkritik tersebut melihat sejarah sebagai sesuatu yang tidak ilmiah karena tidak memenuhi faktor-faktor keilmuan, terutama faktor "dapat dilihat atau dicoba kembali", artinya sejarah hanya dipandang sebagai pengetahuan belaka, bukan sebagai ilmu. Sebenarnya, pendapat ini kurang bisa diterima akal sehat karena sejarah mustahil dapat diulang walau bagaimana pun caranya karena sejarah hanya terjadi sekali untuk selama-lamanya. Walau mendapat tantangan sedemikian itu, ilmu sejarah terus berkembang dan menunjukkan keeksisannya dalam tataran ilmu.


Catatan sejarah

Sebuah sketsa dari Perpustakaan Alexandria pada masa lalu
Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari berbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai "sejarah penceritaan", atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah: foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periodeyang hendak diteliti atau dipelajari. Penelitian sejarah juga bergantung pada historiografi, atau cara pandang sejarah, yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan dan menjaga catatan sejarah, termasuk: alasan administratif (misalnya: keperluan sensus, catatan pajak, dan catatan perdagangan), alasan politis (guna memberi pujian atau kritik pada pemimpin negara, politikus, atau orang-orang penting), alasan keagamaan, kesenian, pencapaian olah raga (misalnya: rekor Olimpiade), catatan keturunan (genealogi), catatan pribadi (misalnya surat-menyurat), dan hiburan.
Namun dalam penulisan sejarah, sumber-sumber tersebut perlu dipilah-pilah. Metode ini disebut dengan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik yang pertama kali harus dilakukan oleh sejarawan saat dia menulis karyanya, terutama jika sumber sejarah tersebut berupa benda. Yakni dengan melihat validisasi bentuk fisik karya tersebut, mulai dari bentuk, warna dan apa saja yang dapat dilihat secara fisik. Sedang kritik intern adalah kritik yang dilihat dari isi sumber tersebut, apakah dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.
Wawancara juga dipakai sebagai sumber sejarah. Namun perlu pula sejarawan bertindak kritis baik dalam pemilahan narasumber sampai dengan translasi ke bentuk digital atau tulisan

Sumber wikipedia
5:58 PM | 0 comments | Read More

Macam-Macam Sejarah

Apabila kata sejarah diucapkan oleh seseorang, maka kata itu tidak memiliki makna yang tunggal. Perlu diperhatikan, apa makna dan macam sejarah yang terkandung dalam kata sejarah tersebut. Dan jangan salah tangkap dengan kata sejarah tersebut. Alih-alih mendapat pencerahan, justru pikiran ditipu oleh sejarah tersebut. Nah oleh karena itu, tanpa berpanjang lebar lagi, berikut macam-macam sejarah tersebut :
  1. sejarah menurut isinya. ā palsu, rekayasa, dan asli.
  2. sejarah menurut aktor penuturnya. ā penguasa dan pecundang dan kalah
  3. sejarah menurut tujuannya   ā ilmiah, warisan, idiologis
  4. sejarah menurut penyajiannya ā narasi dan analitis
  5. sejarah menurut waktunya ā masa lalu, masa kini, masa depan
  6. sejarah menurut wilayahnya ā lokal, nasional, regional, global
  7. sejarah menurut jenis isinya ā pendidikan, masyarakat, politik, kawasan dll.
 
  1. Sejarah Menurut Isinya
   Terbagi tiga sejarah menurut isinya ini, yakni sejarah palsu, sejarah rekayasa dan sejarah asli. Pembagian sejarah ini menempati posisi yang pertama karena dari pembagian inilah, sebuah sejarah pertama kali seharusnya ditinjau. Apabila sebuah sejarah diketahui ada di posisi yang mana diantara tiga dalam pembagian ini, maka sebuah sejarah akan diketahui posisinya oleh seorang manusia. Sehingga manusia akan berada di atas sejarah dan bukan berada di bawah bayang-bayang sejarah yang mungkin menipu, mengelabui atau memperdayanya.
   Sejarah palsu adalah sejarah yang diadakan seluruhnya. Artinya sejarah ini sebenarnya tidak pernah ada sama sekali namun karena banyak sebab kemudian sejrah ini menjadi ada. Misalkan sejarah yang memberikan keterangan tentang seorang tokoh nasional yang ternyata adalah keturunan dari seorang raja besar tertentu. Sejarah itu baru ada setelah tokoh tersebut menempati posisi tertentu. Dan ternyata sejarah itu hanya palsu, semata-mata ada karena tokoh tersebut membutuhkan legitimasi budaya dalam ketokohannya tersebut.
   Kedua adalah sejarah rekayasa. Inilah sejarah diatara sejarah asli dan palsu. Sejarah ini ada, tapi penuh rekayasa. Banyak ditambahi dan dikurangi dari segala sisi dan sudutnya. Penambahan dan pengurangannya tidak sekedar bumbu saja, tapi sudah menyangkut substansi dari sejarah tersebut. Contoh sejarah ini bisa dilihat dari sejarah holocaust yang dilakukan oleh Nazi di Eropa. Sejarah tersebut penuh rekayasa. Bahkan para ahli pun dilarang untuk mengotak-atik sejarah tersebut sehingga bisa mengungkap rekayasa itu. Dalam sejarah nasioanal Indonesia, sejarah tentang G30 September bisa mewakilinya.
   Terakhir, inilah sejarah yang seharusnya dipergunakan oleh seseorang untuk melihat dunianya. Yakni sejarah asli. Sejarah asli adalah sejarah yang benar-benar asli seperti itu. Tidak ada penipuan didalamnya, tidak rekayasa apalagi unsur kesengajaan untuk menjebak pada suatu kesimpulan yang salah. Sejarah yang asli ini banyak ditemui misalnya dalam sejarah pendirian sebuah perusahaan. Sejarah itu ditulis semata untuk mengabarkan tentang bagaimana perjalanan perusahaan tersebut dari waktu ke waktu. Bisa dikatakan, hasil audit terhadap sebuah perusahaan oleh sebuah audit yang sangat terpercaya adalah contoh sejarah asli yang paling baik. Kalau tidak contoh itu adalah sejarah berbentuk otobiografi, diari, atau lain sejenisnya.
 
  1. Sejarah Menurut Aktor Penuturnya
   Bila sering terdengar sebuah kalimat “sejarah di tangan penguasa” itu tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata ada juga sejarah di tangan-tangan yang lainnya. Tapi kalimat tersebut sangat tepat apabila dimaknai bahwa sejarah yang paling menyebar secara merata dan masif adalah sejarah yang dituturkan oleh penguasa. Tapi bukan berarti bahwa sejarah pecundang dan sejarah yang kalah pun habis dan ditelan zaman. Ketiga sejarah itu masih ada dan terus ada dalam sebuah dinamika.
   Yang pertama, sejarah penguasa ialah sejarah yang ditulis dan kemudian dituturkan oleh penguasa di sebuah masyarakat atau negeri. Sejarah ini ditulis karena yang menuturkannya menjadi penguasa dan membutuhkan sesuatu untuk mendukung dan membenarkan kekuasaannya. Dalam hal ini maka penguasa membuatlah dan menuturkan sejarah tersebut. Untuk hal ini, penguasa membuat sebuah usaha yang sangat besar. Beratus ahli sejarah digiring untuk menulis sesuai dengan keinginan mereka. Pertanyaan dan rumusan penelitian mereka harus diseleksi. Yang tidak sesuai dengan keinginan penguasa dilarang atau bahkan mungkin di tindas. Sedangkan yang sesuai keinginan penguasa didukung dan disebarkan dengan gencar.
   Yang kedua setelah sejarah penguasa adalah sejarah pecundang. Pecundang itu berbeda dengan yang kalah. Kalau yang kalah itu adalah yang vis a vis dengan penguasa. Maka pecundang itu adalah yang mengikuti penguasa namun dalam posisi yang tertindas. Biasanya pecundang tertindas karena prinsip yang mereka pegang berbeda dengan pilihan yang mereka putuskan untuk berada di bawah ketiak penguasa. Sejarah pecundang ini biasanya penuh dengan rangkaian apologi.
   Terakhir adalah sejarah yang kalah. Inilah sejarah yang akan sangat berbeda dengan sejarahnya penguasa. Sejarah ini adalah versi lain dari sejarahnya penguasa. Ia ada bukan untuk membela diri seperti halnya sejarah pecundang. Tapi sejarah yang kalah ada dan dituturkan untuk melanjutkan eksistensi mereka. Sejarah itulah yang pada dasarnya membuat yang kalah itu tidak pernah kalah dengan telak. Selama sejarah yang  kalah itu ada, yang kalah masih punya kesempatan untuk kembali bangkit dan mencoba masuk dalam medan pertempuran suatu waktu tertentu.
   Banyak contoh yang bisa diungkap dari ketiga macam sejarah menurut penuturnya tersebut. Misalkan sejarah antara Indonesia dan Belanda. Karena Indonesia menang, maka Soekarno dan Hatta menjadi pahlawan. Tapi bisa jadi apabila Indonesia kalah dan Belanda menang. Soekarno dan Hatta adalah dua orang pemberontah yang dicap merah oleh Belanda sebagai pembangkang yang dungu kelas kakap. Begitulah sejarah terbentuk dari siapa yang menuturkannya. Dari isinya bisa jadi tidak berubah, tapi dari sudut pandang yang berubah sehingga nilai dan fungsinya pun berubah.  
  1. Sejarah Menurut Tujuannya
   Tidak setiap sejarah itu adalah ilmiah. Artinya tidak setiap sejarah itu bisa dibenarnkan secara ilmiah sebagai sebuah sejarah yang disusun berdasarkan metodologis dan validitas tertentu. Sejarah ilmiah yang disusun untuk mendekati kenyataan objektif tidak selalu mendominasi kancah sejarah yang ada. Sejarah ilmiah tersebut hanyal satu dari tiga jenis sejarah lainnya menurut tujuannya.
   Apabila sejarah ilmiah itu bertujuan untuk pengembangan ilmu sejarah sebagai sebuah ilmu yang mengungkapkan masa lalu. Maka ada dua sejarah lainnya yang mempunyai tujuan penulisan yang berbeda. Sejarah warisan, ditulis dengan tujuan untuk memberikan pencitraan terhadap realitas yang ada sekarang. Sejarah warisan adalah sejarah yang adanya adalah nyata. Tapi bila ditelusuri lebih jauh, antara sejrah dan realitas kekinian tersebut tidak ada korelasinya. Sejarah warisan tersebut hanya ditulis, diangkat untuk menunjukan eksistensi dan semangat yang sama diantara sejarah warisan tersebut dengan realitas kekinian. Contoh dari sejarah warisan tersebut misalnya sejarah pangeran Diponegoro sebagai seorang pahlawan nasional. Dari sejarah Diponegoro tersebut, tidak ada hubungan yang konkrit antara sejarah nasional Indonesia sebagai sebuah negara dengan perjuangan Diponegoro. Artinya Diponegoro bisa jadi bukan bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun karena Diponegoro berada dalam satu wilayah yang sama dan melawan pihak yang sama yakni Belanda. Sejarah Diponegoro menjadi sejarah warisan yang relevan.
   Yang terakhir adalah sejarah idiologi. Inilah sejarah yang semata ada untuk kepentingan idiologi tertentu. Sejarah ini tidak mempedulikan validitas atau metodologinya. Tidak mempedulikan pula kesamaan semangat atau wilayahnya. Tidak peduli juga tentang benar atau tidaknya sejarah ini. Yang paling penting dari sejarah ini adalah mendukung terhadap perkembangan sebuah idiologi. Misalnya Majapahit. Untuk mendukung idiologi nasionalisme sejarah Majapahit itu diadakan dan digali kembali sebagai sebuah sejarah yang penting. Sifat Majapahit yang menjajah kerajaan lain tidak menjadi soal karena yang paling penting adalah munculnya rasa nasionalisme dari orang yang mendengar tentang kejayaan Majapahit yang menguasai Nusantara. Sejarah idiologi inilah yang biasanya memiliki semangat dan sentiment yang emosional bagi penganutnya.  
  1. Sejarah Menurut Penyajiannya
Terdapa sejarah narasi yang disajikan bagaimana sebuah peristiwa terjadi secara lengkap. Dijelaskan kronologinya, siapa saja yang terlibat, apa yang terjadi dan kapan serta dimana. Sejarah narasi menggambarkan secara utuh sebuah peristiwa sehingga tidak ada lagi sebuah pertanyaan yang bisa diajukan untuk mendeskripsikan sebuah peristiwa yang terekam dalam sejarah tersebut.
Selain itu terdapa pula sejarah analitis yang merupakan kelanjutan dari sejarah narasi. Apabila sejarah narasi dan analitis ini digabungkan, maka lahirlah sebuah sejarah yang utuh yang komprehensif. Karena sejarah analitis akan melanjutkan pertanyaan dalam penelusuran sejarah sehingga sejarah tersebut disajikan dengan lebih baik sebagai sesuatu yang penuh muatan dan dinamika. Sejarah analitis bertanya tentang mengapa sesuatu sejarah bisa terjadi sehingga akan ditelusuri sebab-sebabnya dan hubungan kausalitas yang terjadi didalamnya.
Penjelasan sejarah analitis bisa mempergunakan pendekatan dari disiplin ilmu yang beragam. Bisa mempergunakan teori-eori sosiologi sebagai penjelasannya, politik, atau antropologi. Penyajian sejarah secara analitis menghendaki kemampuan penguasaan keilmuan yang interdisipliner.

  1. Sejarah Menurut Waktunya
   Jangan katakan bahwa hanya sejarah masa lalu saja yang ada. Tidak, sejarah itu lengkap adanya. Ada sejarah masa lalu, sejarah masa kini, dan sejarah masa depan. Sejarah dalam ketiga dimensi tersebut mempunyai kandungan dan tujuan yang berbeda. Dalam ketiga dimensi tersebut, sejarah menempati posisinya yang sangat penting bagi pengembangan sebuah masyarakat, negara atau apapun itu. Dalam ketiga dimensi waktu tersebut, sejarah memberikan hasrat bergerak yang beragam.
   Dalam sejarah masa lalu, hasrat bergerak yang diberikan itu dicari. Sejarah masa lalu adalah sejarah yang dilupakan. Sejarah masa lalu adalah fenomena gunung es. Hanya sebagian diketahui dari sejarah masa kini, sebagian besarnya masih tersembunyi. Sejarah masa lalu ini apabila terus berkembang akan menjadi sebuah mitos dari lisan ke lisan, dari dongeng ke dongeng. Sejarah masa lalu inilah yang selalu ditelusuri karena belum pernah terangkat dan diketahui. Tapi bisa jadi, sejarah masa lalu adalah sejarah yang telah tergantikan oleh sejarah lainnya sehingga sejarah tersebut sengaja disimpan untuk dilupakan.
   Berbeda dengan sejarah masa lalu, sejarah masa kini memiliki eksistensi yang sangat kuat. Sejarah masa kini adalah sejarah yang diketahui secara umum pada saat ini. Sejarah masa kini adalah tentang peristiwa yang telah berlalu dan dihadirkan kembali saat ini dalam bentuk tulisan dan menyebar secara luas. Sejarah masa kini adalah perdebatan antara berbagai sejarah yang ada kalau bukan eksistensi sebuah sejarah yang menang. Sejarah masa kini adalah sejarah yang memberikan hasrat bergerak untuk mempertahankan saat ini dan meneruskannya pada masa yang akan datang.
   Yang terakhir adalah sejarah masa depan. Inilah peristiwa yang terjadi pada hari ini. Sejarah masa depan, belum menjadi sejarah dalam eksistensinya tapi sudah menjadi sejarah dalam substansinya. Artinya, pada dasarnya sejarah masa depan telah memenuhi persyarakat untuk menjadi sejarah. Tapi belum bisa disebut sejarah karena belum ada usaha untuk menyajikannya. Sejarah masa depan pada dasarnya adalah sebuah hasrat untuk bergerak bagi masa depan. Sejarah masa depan memberikan wajah baru bagi kondisi masa depan. Sejarah masa depan artinya sebuah usaha untuk merekontruksi masa depan.  
  1. Sejarah Menurut Wilayahnya
Sejarah itu bisa terjadi dalam lingkup lokal, nasional atau regional dan global. Tergantung seberapa penting dan besarnya pengaruh yang diberikan oleh peristiwa yang menjadi sejarah tersebut. Bisa jadi sesuatu yang terjadi sangat lokal tetapi menjadi sesuatu yang menjadi sangat global karena pengaruhnya yang begitu besar, misalnya revolusi Prancis pada abad ke 18.
Sejarah lokal adalah sejarah yang terjadi dan berimplikasi pada cakup lokal saja. Yakni sebesar kabupaten/kota atau provinsi dalam sebuah negara nasional. Lokal atau nasional ini memang sangat dipengaruhi oleh kondisi hari ini yang membagi wilayah dunia dalam sekup-sekup nation. Jadi, pembagian lokal ini sangat didasari oleh perspektif politik yang ada waktu itu. Misalnya ketika terjadi peperangan di Aceh pada abad ke 19 dengan Belanda. Dalam perspektif politik Indonesia itu adalah sejarah lokal Aceh. Namun dalam perspektif bangsa Aceh dengan kerajaan Islam Aceh Darussalam, itu adalah sejarah nasional kalau bukan sejarah kerajaannya.
Setelah sejarah lokal, sejarah nasional adalah satu tingkat di atasnya. Sejarah nasional itulah yang ditetapkan atau disepakati sebagai sebuah peristiwa yang telah mempengaruhi perkembangan kondisi secara nasional. Proklamasi RI tahun 45 misalnya, itu adalah peristiwa yang sangat lokal tapi telah mempengaruhi secara nasional. Peristiwa proklamasi tersebut menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi sebuah nation. Inilah yang pada dasarnya membuat sesuatu menjadi sejarah nasional.
Setelah itu terdapat sejarah regional yang biasanya dikelompokan berdasarkan rumpun bahasa atau sejarah politik pada masa sebelumnya. Sejarah regional ini keluar dari perspektif politik kebangsaan dan lebih mendekati pada perspektif kebudayaan dan kesejarahan wilayah. Sejarah melayu di asia tenggara dengan pendekatan kebudayaan keluar dari perspektif politik kebangsaan karena meliputi berbagai negara yang ada di dalam rumpun melayu tersebut.
Yang terakhir adalah sejarah global, inilah yang bisa disebut sebagai sejarah sebuah peradaban. Sejarah global ini pada dasarnya adalah sejarahnya sebuah peradaban tertentu yang mengendalikan dunia pada masanya. Sejarah revolusi Prancis atau zaman pencerahan di Eropa menjadi sejarah global semata hanya karena peradaban Baratlah yang kini sedang memegang dunia. Lepas dari itu, sebuah sejarah yang kini menjadi sejarah global bisa jadi hanyalah sebuah sejarah regional atau nasioanl. Meskipun memang terdapat sebuah peristiwa yang terjadi dan melibatkan hampir seluruh wilayah di dunia ini yang karena itu bisa disebut sebagai sejarah global.
  1. Sejarah Menurut Jenis-Jenisnya
Inilah pembagian yang terakhir macam-macam sejarah. Dari nomor satu hingga nomor tujuh ini, bisa saja sejarah dibagi dalam pengklafikasian yang lebih beragam. Tapi sesuai dengan maksud sebuah pengklafikasian itu sendiri, pemilihan pengklafikasian itu mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Ada maksud tertentu dari sebuah pembagian yang dilakukan. Kriteria-kriteria yang ditentukan pada dasarnya itulah yang menjiwai dan menjadi tujuan tersirat sebuah pengklafikasian.
Terlepas dari itu, marilah mengakhiri pembagian macam-macam sejarah ini dengan nomor ketujuh ini. Yakni pembagian menurut jenis-jenisnya. Yakni yang meliputi sejarah berdasarkan bidang yang dikajinya. Meliputi diantaranya adalah sejarah masyarakat, sejarah intelektual, sejarah kebudayaan, sejarah peperangan dan sejarah lainnya yang sangat banyak variannya. Sejarah sejarah dibagi berdasarkan fokus isi dan analisa yang disajikannya.
Demikian pembagian macam-macam sejarah ini. Moga ada manfaatnya. 


Sumber google
5:52 PM | 0 comments | Read More